Posted by: sampe | July 4, 2008

PARSIRANGAN (PERPISAHAN)

 

Natal 2007 kami lewati dengan begitu banyak momen yang sangat indah, ia masih sempat mengajarkan satu hal yang sangat berharga bagi saya dan keluarga, beberapa hari setelah anak saya dibaptis ia membawa keluarga besar kami ke rumah tulang (paman) dalam rangka silaturahmi Natal, dimana tujuannya adalah agar kami anak-anaknya sebagai orang batak benar-benar menghargai tulang kami. Ini-lah hal terakhir yang dia ajarkan kepada kami dalam hidupnya, pribadi yang pengasih yang sangat peduli dengan keluarga, ayah yang luar biasa bagi saya. Setelah masa libur selesai saya dan keluarga kembali ke Jakarta mejalani aktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada februari akhir saya mendapat kabar bahwa ia dirawat di rumah sakit karena struk yang dialaminya, saya langsung pulang ke medan untuk melihat kondisi orang yang sangat saya kasihi, harapan untuk dapat berkomunikasi dengannya untuk menanyakan apa yang ia rasakan tidak saya dapatkan. Ketika saya tiba di Rumah Sakit dan melihat kondisinya, saya sangat sedih karena kondisi yang begitu parah, dia tidak dapat lagi berkomunikasi bahkan sepatah kata pun tidak  ada keluar dari mulut bibirnya. “Pa.. aku datang pa..” ketika kata itu keluar dari mulutku dan ia mandangku dengan air matanya menetes di pipi membuat hatiku perih sekali. Hari demi hari aku menemaninya di Rumah Sakit dengan kondisinya yang terus semakin menurun, setiap pagi, siang dan malam aku mengajaknya berdoa dan kunyanyikan beberapa kidung pujian di telinganya untuk memberinya kekuatan, ketika kondisinya semakin parah pagi-pagi saya mengajak keluarga yang ada di rumah sakit termasuk mama untuk berdoa, saat itulah saya beri kekuatan kepada mama dan minta mama untuk tabah dan rela jika memang Tuhan harus memanggil papa. Karena melihat penderitaan papa yang sangat berat mama pun rela dan berserah pada kehendak Tuhan. Mama meminta agar semua anaknya berkumpul karena melihat kondisi papa yang semakin parah. 3 Maret adalah HUT papa yang ke-74 kami merayakan HUT papa di rumah sakit dengan penuh air mata. Peristiwa ini kembali membuat saya sangat sedih karena selama ini kami tidak pernah merayakan HUT papa, perayaanHUT  ini adalah pertama dan terakhir yang kami buat untuk papa. Tanggal 4 saya berdua dengan kakak saya kembali ke Jakarta karena harus kembali bekerja saya sudah serahkan semuanya kepada Tuhan, karena saya percaya Tuhan akan berikan yang terbaik, hingga saya kembali ke Jakarta papa tidak dapat menyampaikan sepatah kata pun kepada saya. 7 Maret saya mendapat kabar kalau PKL 14.00 WIB papa sudah pergi untuk selamanya. Dengan air mata mengucur saya langsung berdoa kepada Tuhan meminta Tuhan beri kekuatan. Natal 2007 dan Tahun Baru 2008 adalah terakhir kali papa memberi nasihat kepada saya dan berbicara pada saya. Acara adat dan pemakaman berjalan dengan baik, “Selamat Jalan Pa… Semua nasihat yang papa berikan akan kami jalankan”

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: